Saturday, June 11, 2011

DhUHa: For u Kak Olyn.

DhUHa: For u Kak Olyn.: "Kak Olyn: Awak, kalau akak kawen awak, dengan anak sedara akak jadi pengapit akak tau? Saya: akak kawen dengan pak cik M ke X (okey, x ne..."

Terima Kasih farhana.. akak sangat terharu ;( sayang kat awak.. xpe, akk sentiasa ada untuk awk,. ceh.. ayat yg sama waktu kat sabah dulu.. doakan baitul muslim yg akk baru bina ni yer..

Monday, May 16, 2011

Utusan Raja Sehari



klik gambar untuk lebih besar


Bismillah.. Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang


Dengan rasa syukur dan rendah diri, saya


ROSLINA BINTI JAMIAN


menjemput sahabat-sahabat untuk hadir ke majlis walimatul urus saya pada


29 Mei 2011


Ahad


bertempat di


1039, Blok A2 Felda Air Tawar 4,


81900 Kota Tinggi, Johor.


Semoga dengan kehadiran kalian akan menyerikan majlis dan beroleh keberkatan dari Allah SWT hendaknya.. Amin


Barakallahulakuma wa baraka alaikuma wa jamaa bainakuma fil khair..












Friday, April 8, 2011

Masih menapak





"Ya Allah.. aku ingin menulis lagi.. mengingatkan hati2 yang kian kering dengan Nur dan Rahmatmu"..


Monolog hati tatkala datang menjengah blog seorang sahabat yang sangat2 memberi kesan kepada hati. Jazakillah ukhti..


Alasan.


Semakin jauh perjalanan semakin banyak pula dugaan, dan semakin banyak juga alasan yang diberikan untuk menghadiri majlis2 ilmu, usrah, halaqah dll. Apa yang pasti, uruslah dugaan itu dengan sebaiknya supaya kita semua tidak dijinakkan dengan banyaknya proses penjinakkan sekarang (realiti TV, pekerjaan, istri &anak2 dll) yang menjadikan kita kijang yang pengecut dan supaya kita dapat mengekalkan status singa yang garang,. InsyaAllah.


p/s : peringatan untuk semua.

Tuesday, January 4, 2011

Nabi NUh dan kaumnya

Alhamdulillah, segala pujian hanya untuk Allah.. pemilik timur dan barat. Syukur kehadrat illahi dengan limpahan nikmat yang tidak terhingga banyaknya. Syukur kerana Masih memberi ruang dan peluang untuk bernafas memperteguhkan taubat, membersihkan hati membina iman. Bersyukur padaMu Ya Allah, dengan pinjaman sahabat-sahabat dan ahli keluarga yang banyak membantu melancarkan urusan. Alhamdulillah…

NIKMAT,. Sikitnya dirisaukan, banyaknya dikufurkan. Ramai manusia tenggelam dengan hanya terpesona bersama nikmat sehingga mengabaikan pemberi nikmat. Walhal telah diperingatkan dengan tragedi yang menimpa kaum terdahulu akibat mengkufurkan nikmat pemberian Allah. Semuanya telah diceritakan dalam novel karangan YANG MAHA AGUNG. Banyak kisah yang telah dipaparkan. Kisah kaum Thamud bersama nabi Soleh misalnya. Kisah cinta nabi Yusuf dan Zulaikha, kisah nabi sulaiman dan ratu balqis dan banyak lagi. Semuanya sarat dengan pengajaran yang boleh dijadikan iktibar untuk kita. Dan kali ini, sebagai tugasan halaqah, saya memilih untuk mengkaji kisah nabi nuh bersama kaumnya yang ingkar terhadap nikmat Allah. Moga-moga kita mendapat kebaikan bersama.

Iktibar Kisah dari Al-Quran

Rasul pertama yang diutus ke bumi

Nabi Nuh merupakan rasul pertama yang diutus menyampaikan risalah kepada kaumnya ketika mereka sudah berpaling menyembah patung-patung dan berbuat kezaliman dan kekufuran.

“sesungguhnya kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada NUH dan nabi-nabi setelahnya,..” (4:163)

Baginda menerima wahyu kenabian dalam masa ‘fatrah’ iaitu masa kekosongan di antara dua rasul dimana manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran agama dan kembali kepada ajaran penyembahan berhala tinggalan nenek moyang terdahulu. Nabi Nuh datang ditengah-tengah kaum yang menyembah berhala iaitu patung-patung yang dibuat oleh tangan-tangan mereka sendiri. Mereka menyembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat memberikan kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan diyakini akan membawa kebahagiaan dan kekayaan.

Berhala-berhala yang dipertuhankan dan menurut kepercayaan mereka mempunyai kuasa ghaib terhadap manusia telah diberikan pelbagai nama silih berganti mengikut selera kebodohan mereka. Kadang-kadang berhala mereka dinamakan Wadd dan Suwa’, kadangkala Yagus dan apabila telah bosan mereka menukar kepada Ya’uq dan Nasr.

“dan mereka berkata, “ janganlah sesekali kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu dan janganlah sesekali kamu meninggalkan penyembahan Wadd, dan jangan pula Suwa’ Yagus, Ya’uq dan Nasr” (71:23)
Dakwah nabi Nuh as

Nabi Nuh telah menggunakan masa yang lama untuk berdakwah menyeru kaumnya menyembah Allah. Allah berfirman :

“dan sesungguhnya, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun…” (29:14)

Ini bermaksud, nabi Nuh berada ditengah-tengah kaumnya selama Sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah, mengajak mereka menyembah Allah yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala. Nabi Nuh telah mengajar kaumnya hokum-hukum syariat agama sepertimana yang telah diwahyukan Allah kepadanya, mengangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ketingkat yang sesuai dengan fitrah dan berusaha menghilangkan sifat sombong dan bongkak yang melekat pada para pembesar dikalangan mereka. Nabi Nuh juga mendidik mereka supaya berkasih sayang sesama manusia, tolong menolong dan menyedarkan mereka tentang konsep kesamarataan dikalangan mereka.

Nabi Nuh menghadapi dugaan dan cabaran

Sepanjang berdakwah menyeru kaumnya pada yang Esa, nabi Nuh telah menerima pelbagai ancaman, ugutan dan tohmahan yang tidak berasas. Ikuti kisahnya..

Nabi Nuh : Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kamu, iaitu sembahlah Allah, bertaqwalah kepadaNya dan taatlah kepadaku, nescaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu, sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. (71:2-4)

Pemimpin kaumnya : Kami tidak melihat kamu, melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta (11:27)

Nabi Nuh : Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikit pun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak ketahui. Dan apakah kamu tidak dan hairan bahwa telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat. (7:60-63)

Kaumnya : Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina? (26:111)

Nabi Nuh : Tidak ada pengetahuanku tentang apa yang mereka kerjakan. Perhitungan amal perbuatan mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, jika kamu menyedarinya. (26:112-115)

Pemuka : sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata (7:60)

Nabi Nuh : Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya, sedangkan rahmat itu disamarkan bagimu. Apa kami akan memaksa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya? (11:28)

Nabi Nuh : Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu sebagai imbalan atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh. (11:29)
Mereka seperti terpengaruh dengan kata-kata nabi Nuh. Namun, mereka
mendapati pengikut-pengikut nabi Nuh terdiri daripada orang-orang fakir dan
orang-orang lemah yang berbeza dengan mereka, baik dari segi social dan kekayaan. Maka mereka berjanji akan beriman dengan syarat nabi Nuh mahu menjauhkan orang-orang lemah darinya, mengusir dan menghalau mereka serta tidak mengikuti dakwah nabi Nuh. Nuh tidak cepat melatah dengan ugutan tersebut malah nabi Nuh menjawab:

Nabi Nuh : Dan wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari azab Allah jika aku mengusir mereka? Tidakkah kamu mengambil pelajaran? (11-30)

Nabi Nuh : Dan aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang ghaib dan tidak pula mengatakan bahawa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan aku tidak juga mengatakan kepada orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sungguh jika demikian aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. (11:31)
Nasihat dan perkataan nabi Nuh tidak diendahkan, malah mereka membantah bersungguh.

Kaumnya : Wahai Nuh! Sungguh engkau telah berbantah dengan kami dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan jika kamu termasuk orang yang benar. (11:32)

Nabi Nuh : Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia kehendaki dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri. Nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin memberi nasihat kepadamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah tuhanmu dan kepadaNya lah kamu dikembalikan.

Nabi Nuh berasa sedih apabila seruannya tidak mendapat perhatian dari kaumnya. Harapan nabi Nuh akan kesedaran kaumnya ternyata semakin hari semakin berkurang, sinar iman dan taqwa tidak akan menembus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajakan iblis dan sekutunya. Nabi nuh menemui jalan buntu dalam menghadapi mereka, ia telah mengadukan penentangan itu kepada Allah.

Nabi Nuh : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku hanyalah menambah mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka kepada iman agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka kedalam telinganya dan menutupkan bajunya kemukanya dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka kepada iman dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka ‘mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan hart anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan menadakan pula di dalamnua untukmu sungai-sungai” (71:5-12)

Allah yang Maha berkuasa dan Maha mendengar telah mendengar aduan serta rayuan nabi Nuh. Dengan penuh kasih sayang Allah memujuk nabi Nuh.

Allah berfirman : Ketahuilah tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman sahaja, kerana itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat ( 11: 36)

Lalu Allah memerintahkan nabi Nuh membina sebuah kapal, maka bersegeralah nabi Nuh dan pengikutnya mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut.

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (11:37)

Nabi Nuh telah memilih tempat yang jauh dari kota dan kaumnya agar dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan bagi menyelesaikan pembinaan kapalnya. Namun, sangkaan nabi Nuh meleset. Mereka yang secara kebetulan atau tidak sengaja melalui kawasan pembinaan itu telah mengejek dan mengolok-olokkan tindakan nuh dan pengikutnya.

Kaumnya : Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu dan pembuat kapal? Bukankah engkau seorang nabi dan rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kyu dan pembuat kapal? dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air ini adalah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan menarik kapalmu ke laut?

Nabi Nuh : Baiklah, tunggu saja saatnya nanti, jika kamu sekarang mengejek dan mengolok-olokkan kami maka akan tibalah masanya kelak bagi kami mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saatnya azab dan hukuman Allah menimpa atas kamu.

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya.

Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal." (11: 38-39)

Apabila selesai pembinaan kapal, nabi Nuh menerima wahyu dari Allah:

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (11:40)

Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi air yang deras dan dasyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa sehingga mencapai puncak bukit-bukit. Tiada lagi tempat berlindung dari air bah yang dasyat itu kecuali kapal nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan orang-orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan nabi Nuh atas perintah Allah.

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). (54:11-14)

Allah menghancurkan kaum nabi nuh as

Kapal nabi Nuh belayar dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamatkan diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menelan mereka dalam lipatan gelombang yang mengganas.

Disaat-saat getir itu terlihatlah nabi Nuh akan tubuh puteranya yang sulung bernama “Kan’an” timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan terhadap orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah. Tanda disedari, timbullah rasa cinta dan kasih saying seorang ayah terhadap anaknya yang berada diambang maut. Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat hati memanggil puteranya.

Nabi Nuh : Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir (11:42)

Kan’ann : Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah. (11:43)

Nabi Nuh : Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang (11:43)

Kan’ann : Biarkanlah aku dan pergilah, jauhi aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu. Aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air.

Maka tenggelamlah Kan’ann disambar gelombang ganas dan lenyaplah dia dari pandangan mata ayahnya. Tergelincirlah dia di bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang derhaka itu.

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." (11:45)

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (11:46)

Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (11:47)

Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim itu sesuai dengan kehendak dan hokum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit Judie dengan iringi perintah Allah.

"Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (11:48)

Begitulah balasan Allah terhadap hambanya yang cuba mengaku sebagai tuhan. Bila Allah mengkehendaki, tiada siapa yang dapat menghalang. Waallhu’alam.




Thursday, November 18, 2010

Senyum

Disepanjang badai kesukaran...


TERSENYUMLAH


Hati yang gundah terasa tenang.. Lihat mereka...



Senyuman..tanda keimanan..

Senyuman ceria..
Senyum kambing

Senyum.. membahagiakan..

Kami juga Senyum
Senyum..pengerat ukhuwah
Senyum..sedekah paling mudah
DISEBALIK kesukaran...
Pasti ada...

Kesenangan selepas kesusahan
Kegembiraan selepas kesedihan
Kejayaan selepas kegagalan

Jiwa-jiwa yang gelisah akan serabut dengan kesusahan manakala jiwa-jiwa yang tenang akan mengatasi kesusahan dengan mudah...

ASY-SYARH (94) : 5-6





Wednesday, November 17, 2010

Nafsu dan Mujahadah


serang!!!

Kata bijak pandai, Nafsu tidak boleh dimusnahkan tetapi nafsu perlu dididik. Kehendak nafsu adalah sesuatu yang boleh menberi keseronokan sementara, khayal dengan pelbagai angan yang dibangkitkan. Pesan Rasulullah dalam sebuah hadis hasan, “seorang mujahid adalah yang melawan hawa nafsunya kerana Allah”. Pada dasarnya, melawan hawa nafsu adalah bertujuan untuk mendidik nafsu supaya mengikut kehendak Allah dalam setiap masa dan perkara. Apabila nafsu dapat dikalahkan, kita akan melebihkan kehendak Allah berbanding kehendak diri kita sendiri.

Persoalannya,macamana nak melawan kehendak nafsu? Lebih-lebih lagi dalam dunia yang penuh keseronokan sekarang ni, mereka yang inginkan kebaikan dianggap mundur, tidak maju. Mereka yang berpakaian seksi menjolok mata dianggap bagus dan bermutu. Mungkin disana barulah kita boleh aplikasikan apa yang kita belajar tentang mujahadah. Mujahadah dalam melawan hawa nafsu. Mudahnya, bermujahadah adalah memaksa diri untuk taat kerana tabiat hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi dan disukai oleh jiwa manakala ketaatan adalah sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa. Kemanisan dalam ketaatan kepada perintah Allah hanya akan dirasai apabila nafsu dapat dididik. Dan Hasil daripada sebuah mujahadah adalah sebuah ketaqwaan.

Satu perkara yang sudah kita sedia maklum, Perjuangan melawan hawa nafsu adalah sesuatu yang sukar. Dalam surah ke-5 ayat 35 Allah berfirman:

"wahai orang2 yg beriman! Bertaqwala kpd Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah di jalanNya agar kamu beruntung”

Dalam ayat ini, Allah menyuruh kita mencari jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Maksudnya (dari pemahaman saya) jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sudah tersedia Cuma Allah meminta kita supaya mencari. Perlukan usaha yang gigih sebelum mencapainya. Berhasil ataupun tidak adalah bergantung kepada keikhlasan kita dalam mencari jalan tersebut. Kadang-kadang baru separuh perjalanan kita dah tersungkur, terpaksa tunduk mengalah dengan nafsu. Ini kerana setiap langkah kita pasti akan diuji. Dan beruntunglah kerana kita digolongkan dalam golongan orang2 yang sabar dan sedar untuk mencari jalan itu. Laluannya tidak mudah, sekali lagi perlukan mujahadah dan keinginan yang kuat untuk dekat dengan Allah.

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “mereka yang bermujahadah (yakni berjuang bersungguh-sungguh) pada jalan Kami akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” Fudail Iyad menyatakan mereka yang bermujahadah untuk mencari ilmu, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan untuk beramal.” Junaid Al Baghdadi mengatakan, “mereka yang bermujahadah untuk bertaubat, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan keikhlasan” sedangkan Abdullah bin Abbas menyebutkan, “ mereka yang bermujahadah untuk melakukan ketaatan, Allah akan tunjukkan kepada mereka jalan dan ganjaran.”

Lihatlah betapa kasih sayang Allah itu melebihi kemurkaanNya. Walaupun Nikmat yang diberi kita balas dengan kemungkaran,.Allah tetap sambut dengan pengampunan. Ayuh sahabat.. kuatkan zikir hebatkan fikir. Seorang muslim tidak boleh putus asa dari rahmat Allah.. jangan fikir 2kali untuk membuat kebaikan dan jangan selalu fikir diri kita seperti malaikat yang sentiasa suci dari dosa dan maksiat. Jangan sesekali main tarik tali dengan nafsu kerana diakhirnya pasti kita yang akan merasai kerugiannya.

Waallahua’alam

Friday, November 12, 2010

KEmbali beraksi.. ;)


jalan ke syurga..

Alhamdulillah..segala puji bagi Allah yang Maha Menjaga.. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.. ya.. dalam kerugian.. lama say tinggalkan blog ni.. bukan stakat berhabuk. Berdebu.. malah anak beranak lipas pun banyak..hehe.. tiada alas an yang best kenapa saya tinggalkan.,mungkin sebab kekangan teknologi yang kadang-kadang menyusahkan.. abes je belajar 5 bulan lebih yang lepas,.saya terus membiarkan “pak cik DIGI” tanpa bayaran,. Bukan apa, pak cik DIGI xdapat masuk dalam kampong saya.,membazir je pun kalu bayar..hehe.. (alas an lagi). Dan dalam masa 5 bulan lebih yang lepas, banyak perkara berlaku pada saya yang sangat2 mengajar saya, jalan dakwah itu bukan untuk orang yang manja, bukan untuk orang yang sentiasa menunggu, bukan untuk orang yang nak rileks… Ya,.. jalan dakwah tidak akan pernah menunggu kita, malah ia akan terus maju kehadapan tanpa kita bersama dengannya..

Dalam tempoh itu juga, saya menimba pengalaman menaadi seorang pendidik. Walaupun statusnya hanya guru ganti, namun saya amat bersyukur kerana banyak yang dapat saya belajar daripada anak-anak murid saya (mcm terbalik je kan, emm,..tu la hakikatnya). Kebetulan dapat mengajar kat sekolah lama (SMKA BP), pertama sekali masuk kelas tingkatan 6 atas, seronok sebab jumpa junior2 waktu sekolah dulu, saya form 5 diorng form 1., jadi diorang pun keliru nak panggil ustazah ke kak olyn..hahaha.. seronok.. Yang paling saya xboleh lupa, masuk je sekolah, saya lapor diri pada GPK 1 dan dapat jadual guru yang patut saya ganti. Guru tersebut expert in SEJARAH.. jadi saya kenalah ajar sejarah.. nak di jadikan ceritakan, start masuk kelas form 6 tu saya ajarlah sejarah tingkatan 6. Da la xpenah masuk form 6, xtau mcam mana kaedah pembelajaran diorang tetibe kena mengajar. So, dengan penuh yakinnya saya terangkan TAMADUN ISLAM. Alhamdulillah,. Walaupun dapat ijazah kepujian sains makanan dan pemakanan, IJAZAH ketamadunan Islam xpernah saya lupakan.. (tu la untungnya bagi sesape yang join halaqah) huhu.. Diorang bukannya tahu yang saya terangkan tu sebenarnya ANTARA SEMALAM DAN HARI INI, terkandung dalam Risalah taklim as-syahid HASSAN AL-BANNA. Bila saya semak semula, semua fakta tu ada dalam diorang punya buku rujukan tamadun islam tapi biasalah dah banyak yang di edit. Alhamdulillah, saya berada kat sekolah selama 2 bulan 1/2 . sepatutnya contract sampai akhir tahun tapi saya resign sebab …. Emm.. ada sebab2 tertentu..

Lepas je resign (after hari raya), saya yakin rezeki kita Allah yang pegang, jadi waktu tu saya dapat panggilan untuk join IMREC (iskandar Malaysia research centre) program selama 3 bulan. Ala, program untuk lepasan siswazah. 1 bulan classroom, 2 bulan training. Abes da 1 bulan classroom, dan sekarang sedang training.. sepatutnya internship tapi saya terus dapat bekerja kat satu hospital swasta di johor. Dan sekarang.. saya bekerjalah…huhu..

Tu la serba sedikit apa yg saya lalui selama 5 bulan lebih yang saya xupdate blog ni… ke sana kemari sampai terlupa yang saya pun ada blog macam kawan2 saya.,. dan selepas ni insyaAllah.. saya mohon diberi kekuatan untuk menulis lagi.. berkongsi pengisian untuk hati2 yang memerlukan.. semestinya hati saya sendiri, mustahil gelas yang kosong dapat membajiri kawasan sekitarnya,. Begitulah hati.. hati yang kering tidak akan dapat membasahi hati orang lain.. saya mohon kekuatan dari Allah.. semoga saya masih lagi thabat di atas jalan yang saya pilih.. jalan yang sukar, yang penuh duri2 tajam.. namun, jalan ini lah yang saya yakini yang akan membawa saya kerehatan yang abadi di sana…

Terima kasih kepada sahabat-sahabat seperjuangan yang tak abes2 memberikan nasihat kepada saya.. saya bersyukur kerana sepanjang perjalanan yang sukar ini Allah anugerahkan saya sahabat2 yang banyak membantu..menyokong.. sebagai penguat untuk terus melangkah.. redha Allah terlalu mahal…itulah yang saya nak kejar.. biarpun saya perlu merangkak untuk mendapatkannya.. mudah2an ada kebaikan untuk kita bersama.. insyaAllah..
Waallhualam..

Friday, June 4, 2010

Tabuk dahulu dan 'Tabuk' sekarang


Alhamdulillah,.segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam. Setinggi kesyukuran dipanjatkan hanya kepadaNya. Selawat dan salam buat junjungan besar nabi Muhammad SAW serta para sahabat baginda dan isteri-isteri baginda.

Bila kaki mula melangkah, hati masih lagi goyah. Jasad dan roh masih lagi bersatu namun hakikatnya roh terbang melayang melupakan tugas dan peranan sebagai seorang hamba. Sibuk nak mengejar keseronokkan dunia yang hanya sementara.

Saya mengelamun lagi. Teringat peristiwa yang berlaku sekitar perang Tabuk. Ketika kaum muslimin mendengar suara seruan Rasulullah mengajak kepada peperangan melawan Rom maka serta merta mereka berlumba-lumba mematuhi perintah Baginda itu. Mereka segera bangun mempersiapkan diri dan tentera Islam secepat mungkin, seluruh qabilah dan kelompok-kelompok Arab berduyun-duyun turut ke Madinah dari segenap pelusuk dan penjuru, tak seorang pun merelakan ianya tersisih dan tertinggal kecuali golongan yang sakit di dalam hatinya malah hinggakan golongan fakir dan miskin pun datang mengadap Rasulullah meminta supaya mereka pun dapat turut serta untuk melawan Rom, tetapi Rasulullah menjawab: "Aku tidak ada sesuatu yang boleh membawa kamu semua". Maka mereka beredar dari situ dengan muka berlinangan air mata, berdukacita kerana tidak dapat turut serta dan ketiadaan sesuatu untuk membiayai peperangan".
"Tidak ada padaku kenderaan yang hendak ku berikan untuk membawa kamu, mereka kembali sedang mata mereka mengalirkan airmata yang bercucuran, kerana sedih mereka tidak mempunyai sesuatu pun yang hendak mereka belanjakan untuk pergi berjihad pada jalan Allah ".
(al-Taubah: 92)

Mata mereka bercucuran air mata kerana sedih yang sangat mendalam. Itulah perasaan mereka. Hancur luluh, sedih, merana. Bagai terhiris sembilu hati mereka apabila pasukan muslimin berangkat dengan suara unta mengorak penuh gembira menuju Tabuk. Sedih sebagai orang yang tak mampu, sebagai orang yang tidak berguna, sedih sebagai orang yang rela duduk, sedih sebagai orang yang bodoh melepaskan kesempatan mulia.

Begitulah perasaan sahabat nabi yang mulia. Mereka menangis, bercucuran air mata. Tapi tangisan dan cucuran air mata itu bukanlah kerana mereka melakukan dosa dan bertaubat malah mereka sebenarnya tidak melakukan kesalahan. Mereka bersedih kerana tidak dapat melakukan ketaatan. Tidak mampu untuk bersama Rasulullah melawan rom. Sangat berbeza dengan kita sekarang. Air mata banyak dihabiskan dengan sia-sia. Bukan sahaja tidak menangis dengan banyaknya ketaatan yang kita tinggalkan,malah masih boleh bergembira dalam berulang kali mengabaikan perintah Allah. Hati saya sayu mengenangkan betapa jauhnya kehidupan saya dengan mereka. Saya juga menangis tapi tangisan penyesalan atas dosa-dosa yang terlanjur. Hati saya bertambah hiba apabila saya tak dapat berkongsi rasa dengan sahabat-sahabat saya yang dulu pernah ke surau bersama, solat, makan dan tidur bersama, sahabat yang memaksa saya untuk menyertai usrah yang kini saya pun tak pasti samada mereka masih lagi tahu apa itu usrah.

Saya terfikir dan merenung sejenak. Apakah cukup usaha saya selama ini? Andai kata ada satu lagi siri ‘Tabuk’ pada hari ini. Mampukah saya menjadi seperti para sahabat yang menangis apabila tidak mampu menunaikan ketaatan. Menyerahkan seluruh harta dan meninggalkan Allah dan Rasul pada keluarga saya. Jika dahulu medan Tabuk mungkin hanya kekurangan satu, dua atau lima pasukan. Tapi “Tabuk” hari ini kekurangan ribuan bahkan jutaan pejuang agar mereka meninggalkan ‘zon selesa’, menyeru manusia kepada Allah dan mempertahankan agama Allah.

Jika dahulu di dalam perlumbaan kaum muslimin membiayai peperangan, Uthman bin Affan telah tampil ke hadapan dengan pakej yang tersendiri, satu kafilah unta sebanyak dua ratus ekor sarat dengan muatannya, dua ratus auqiyah makanan diserahkan kepada Rasulullah sebagai sedekah, malah beliau membawa seratus ekor unta yang lain, kemudian beliau membawa seribu dinar yang dicurahnya ke dalam riba Rasulullah (s.a.w). Rasulullah (s.a.w) segera menerimanya sambil bersabda: "Uthman tidak akan binasa selepas ini, lantaran apa yang beliau lakukan itu". Selepas itu beliau memberi lagi sedekah dan bersedekah lagi, hingga sedekahnya sahaja menjadi sembilan ratus (900) ekor unta dan seratus (100) ekor kuda, selain dari wang.

Manakala Abdul Rahman bin Auf telah membawa dua ratus Auqiyah perak sementara Abu Bakr pula membawa kesemua harta miliknya tanpa meninggalkan apa-apa pun untuk keluarganya selain daripada Allah. Kesemua sekali hartanya empat ribu dirham dan beliaulah orang pertama sekali yang menyerah hartanya kepada Rasulullah, manakala Umar membawa separuh dari hartanya, al-Abbas membawa banyak sekali dari hartanya, Talhah dan Saad Ibnu Ubbadah dan Muhammad bin Maslamah, semua mereka membawa harta masing-masing. Asim bin 'Adi membawa sembilan puluh ekor unta yang sarat dengan muatan buah tamar.

Tapi kini, kita bukan lagi kehilangan jiwa-jiwa seperti Uthman, Abdul Rahman, Abu Bakr, Umar, Talhah dan lain-lain, malah kita sendiri gagal mendidik diri kita seperti mereka. Mungkin bukan KITA tapi SAYA lah yang gagal mendidik diri saya seperti mereka.

Inilah yang saya rasa apabila berada di rumah. Berada di zon selesa. Mula berfikir tentang dunia dan segala keseronokkannya. Saya sudah kembali ke dunia saya. Medan yang penuh mehnah dan tribulasi. Sendirian mempertahankan iman bukanlah satu perkara yang mudah. Apakah yang akan berlaku seterusnya?? Kepada Allah saya serahkan. Kerana islam saya akan berkorban..

Saya tidak akan pernah mengalah dengan syaitan yang hanya menjanjikan angan-angan kosong. Saya tidak akan mengalah dengan nafsu walaupun kadang-kadang ia mula menguasai. Saya tidak akan pernah berhenti berharap. Kerana saya yakin pada pertolongan Allah. Sekadar ingin berkongsi rasa. Moga-moga ada kebaikan untuk kita bersama.

Seorang penulis pernah menyeru;

“carilah kebaikan, milikilah kebaikan dan warisilah kebaikan. Kebaikan itu bukan hanya pada yang harum dan indah, tetapi juga ada pada yang busuk dan hodoh. Najis boleh bertukar menjadi baja. Penawar bisa ular datang daripada racunnya”

Akhirnya..

Hidup ini adalah satu ujian. Dimana orang, situasi dan kondisi yang menjadi punca ujian adalah guru manakala alam sekeliling ialah sekolah, medan menuntut ilmu. Kita sedang menghadapi ‘peperiksaan’ besar dimana pengetuanya ialah Allah. Kita akan dapat kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi ujian andai kata kita meletakkan Allah dihadapan. Percayalah, Allah mendidik kita setiap saat, setiap detik waktu, pada setiap peristiwa dan manusia. Allah mendidik melalui kesenangan, kesusahan, pujian mahupun cercaan. Apa yang pasti, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Dia sentiasa ada disisi kita malah lebih dekat dari urat nadi kita. Dia tahu setiap keperluan kita, Dia mendengar segala keluhan dan rintihan hati kita malah Dia tidak pernah jemu dalam memberi ‘nasihat dan mendidik’ walaupun hakikatnya kita hanyalah seorang HAMBA…

Waalhua’lam.

Wednesday, May 26, 2010

Masjid + politik


Masjid Universiti Malaysia Sabah

ulasan dari Ustaz Pahrol mengenai isu 'politik di masjid'.. Boleh layari..

http://genta-rasa.com

AGENDA Islam dalam agenda politik semasa sepatutnya akan lebih membersihkan dunia politik yang selalu disifatkan sebagai ‘a dirty game’. Ini selaras dengan sifat Islam sebagai agama yang suci dan menyucikan. Jika apa yang diperjuangkan oleh parti politik (tidak kira pihak kerajaan atau pembangkang) benar-benar Islam, langkah itu tentunya akan menghasilkan keadaan yang lebih positif. Islam sudah sewajarnya mempunyai membersihkan dunia politik dan ahli politik.

Anehnya, perkara ini tidak berlaku. Malah politik kelihatan menjadi lebih kotor apabila elemen ‘Islam’ dimasukkan dalam persaingan parti-parti politik. Justeru, kini telah timbul satu persoalan apakah politik telah di’Islam’kan atau Islam yang telah dipolitikkan?

Satu isu yang sangat berkait rapat dengan persoalan ini ialah kaitan antara institusi mesjid dengan politik. Ada pihak, beranggapan bahawa institusi mesjid seharusnya bebas dari sebarang kegiatan politik. Menurut mereka, para imam dan khatib tidak sewajarnya menggunakan khutbah dan kuliah agama sebagai platform politik. Agama dan politik mesti dipisahkan. Tanggapan ini ada benarnya jika politik dilihat dalam realiti semasa.

Umum kini melihat politik bukan lagi dari aspek ilmu dan falsafahnya, tetapi lebih diwarnai oleh perilaku parti dan gelagat ahli politik. Kebanyakan kita melihat politik sebagai satu gelanggang perebutan kuasa, penggunaan wang, pertelagahan diantara ahli-ahli parti, pembelotan dan tipu muslihat.

Menjelang pemilihan pemimpin dalam sesebuah parti mahupun persaingan antara parti dalam musim pilihanraya, kita akan melihat bagaimana kaedah-kaedah yang tidak bermoral akan digunakan untuk mencapai kemenangan. Kata mengata, cerca mencerca misalnya, sudah menjadi suatu yang lumrah dan hampir diterima sebagai satu budaya politik semasa. Jika inilah wajah politik yang ada, maka wajarlah mesjid diselamatkan dari ‘kekotoran’ itu. Politik yang semacam ini bukan sahaja tidak layak dibawa masuk ke dalam mesjid, malah di luar mesjid pun tidak layak diamalkan! Manakala ada pihak yang lain pula, beranggapan bahawa politik dan agama tidak boleh dipisahkan. Oleh kerana politik adalah satu cabang dari ajaran Islam maka para khatib, imam dan bilal berhak menyentuh isu-isu politik kerana ia memang satu persoalan dalam kehidupan. Bukankah Islam adalah satu cara hidup, hujah mereka. Oleh itu tidak salah jika mesjid dijadikan platform untuk menyentuh soal-soal yang ada kaitannya dengan politik.

Tanggapan ini juga ada benarnya, dengan syarat politik dilihat dari segi erti, falsafah dan peranannya yang sebenar. Istilah politic bermakna, ‘the arts and sciene of government’. Atau ‘siasah’ dalam bahasa Arab berasal daripada kata dasar yang bermakna, ‘to lead, to guide, to conduct, to direct’. Jika politik dilihat menerusi dimensi ini, mesjid bukan sahaja boleh dijadikan tempat berpolitik bahkan mesti dijadikan pusat kegiatan politik.

Dalam konteks ini politik dilihat sebagai satu urusan kepimpinan yang hakikatnya adalah amanah Allah kepada manusia. Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud, setiap kita adalah gembala (pemimpin) dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepimpinannya. Urusan ini sangat penting dalam ajaran Islam justeru kepimpinan (politik) adalah satu alat untuk menegakkan ubudiyah kepada Allah swt. Lantaran itu politik menjadi sesuatu yang bersih kerana ditunjangi oleh akidah yang mantap, dipantau oleh syariat dan dihiasi oleh akhlak.

Sejajar dengan ini, Rasulullah dan para sahabatnya telah menjadikan mesjid sebagai tempat perbincangan dan mesyuarat untuk memimpin dan mentadbir manusia. Dari mimbar mesjidnyalah Rasululah saw menjelaskan tanggung-jawab pemimpin, peranan rakyat jelata, prinsip keadilan, susunan masyarakat, pembangunan ekonomi, pendidikan dan lain-lain urusan kepimpinan.

Sayidina Abu Bakar As Siddiq, Umar Al Khattab, Uthman ibn Affan, Ali bin Abi Talib dan Umar ibn Aziz telah membuat ucapan pertama selepas perlantikan mereka sebagai khalifah di mimbar-mimbar mesjid. Ucapan mereka penuh rasa takut dan gentar kepada Allah atas jawatan yang telah diamanahkan oleh rakyat kepada mereka. “Aku bukanlah manusia yang terbaik untuk urusan ini,” kata Sayidina Abu Bakar. “Jika Umar tersalah, maka betulkanlah dia,” kata Umar Ibn Khattab. Inilah petikan kata dari para pemimpin apabila politik telah di’Islam’kan.

Pada ketika ini politik lebih berpusatkan kepentingan rakyat (people-centered) bukan berpusatkan diri pemimpin (politican-centered). Kepimpinan bukan matlamat tetapi alat untuk melaksanakan tanggung-jawab. Jawatan tidak dilihat sebagai satu anugera malah dilihat sebagai satu amanah. Lantas ia sesuatu yang mesti dielakkan, sekiranya boleh berbuat demikian seperti doa Umar Ibn Aziz, “ya, Allah jauhkan jawatan khalifah daripadaku seperti dijauhkan Timur dari Barat.” Tetapi jika terlantik juga ia mesti dipikul dengan penuh rasa takut, cemas dan bimbang kepada Allah. Inilah warna indah apabila politik berjaya ‘diIslamkan’.

Sebaliknya, jika Islam pula yang ‘dipolitikkan’, kepimpinan akan berserabut dengan cita-cita peribadi dan kepentingan puak. Ahli politik bukan sahaja terpaksa bergelut dengan lawan mereka dari parti lain malah dengan anggota separti. Realiti ini boleh dilihat samada dalam kempen pilihanraya umum ataupun kempen pemilihan pucuk pimpinan parti. Kempen pilihanraya yang sepatutnya menjadi saluran untuk meyakinkan pengundi tentang dasar parti, kemampuan calon dan perubahan yang ingin dibuat telah bertukar menjadi medan caci-maki, hasut-menghasut, ejek-mengejek diantara parti-parti tersebut.

Manakala dalam kempen pemilihan pula, budaya politik wang, surat layang, buku fitnah dan bermacam-macam gejala negatif telah pun berlaku. Rakyat yang sepatutnya diberi peluang untuk membuat penilaian tentang kreadibiliti calon, rekod pencapaian parti, manifesto perjuangan telah terheret dalam kancah permusuhan yang begitu serius. Lebih malang lagi bila permusuhan itu berlarutan walaupun musim pilihanraya atau tempoh pemilihan telah berlalu. Pendekata, saluran penerangan yang sepatutnya dinikmati oleh rakyat menerusi kempen pilihanraya telah bertukar menjadi saluran pergeseran yang merbahaya.

Prinsip Machiavelli tidak seharusnya dibiarkan mendominasi senario politik Tanah Air. Islam tidak boleh terus menjadi semacam ‘bahan komoditi’ yang menjadi alat politik semata-mata. Kita tidak boleh melanggar nilai-nilai Islam dengan alasan untuk menegakkan Islam. ‘Orang politik’ tidak sewajarnya lagi dilihat hanya sebagai individu aktif dalam sebuah parti yang merayu rakyat menyokong partinya agar dia sendiri mempunyai tempat dan kedudukan dalam parti tersebut. Sebaliknya, dia wajar dilihat sebagai individu yang dapat membawa diri, rakyat dan negaranya menerusi bidang politik untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat.

Pada saya jika politik difahami dalam ertikata yang luas, ia sebenarnya bukanlah merupakan tanggung-jawab parti-parti politik dan orang politik sahaja. Isu politik dan isu kepartian walaupun berkait rapat tetapi ia tetap dua perkara yang berbeza. Usaha untuk menegakkan kebaikan, kebajikan, keadilan, kasih-sayang, keamanan dan kemakmuran yang merupakan tujuan-tujuan penting dalam politik, adalah tugas semua anggota masyarakat.

Ia adalah urusan politik dan bukan urusan parti politik. Tugas ini tidak terhad kepada orang politik dan parti politik sahaja tetapi ia adalah tugas para imam, bilal, korporat, teknokrat, buruh, nelayan malah sesiapa sahaja. Tugas ini pula mesti dilaksanakan di seluruh tempat samada di mesjid, parlimen, kilang, pejabat, pusat pengajian atau di mana sahaja. Kita semua harus matang dalam berpolitik, yakni mampu membezakan antara urusan politik yang lebih umum dengan urusan politik kepartian yang lebih khusus.

Yang penting dalam apa jua keadaan, samada dalam urusan politik umum atau politik kepartian, kita hendak terikat dengan ajaran Islam Islam. Politik adalah alat, manakala Islam itu adalah matlamat. Oleh itu apa jua persolan dalam politik mestilah ditujukkan dan tunduk kepada akidah, syariat dan akhlak Islamiah. Mana-mana pihak (samada individu atau kumpulan) yang berjaya mempertahankan prinsip ini tetap dianggap menang sekalipun kalah dalam pilihanraya.

Sebaliknya, parti yang gagal mempertahankan prinsip ini tetap dianggap kalah sekalipun memenangi dalam pilihanraya. Islam menolak prinsip ‘matlamat menghalalkan cara’. Kalah dan menang pilihanraya memanglah satu faktor yang kritikal dalam politik kepartian tetapi ia bukanlah faktor penting dalam urusan politik yang lebih umum. Bakti, pengorbanan dan kerja keras masih boleh dicurahkan kepada rakyat dan negara tanpa terikat oleh blok kepartian atau musim pilihanraya.

Adalah menjadi harapan kita agar semua pihak memahami benar akan hakikat politik ini. Jika ini berjaya dicapai, urusan politik akan dapat dilaksanakan dalam suasana yang lebih aman, harmoni dan kasih-sayang. Walaupun dalam arus politik perdana persaingan dan pertandingan tidak dapat dielakkan, tetapi persaingan dan pertandingan itu boleh dilaksanakan secara sihat dan bersih. Apabila persaingan kepartian tamat, semua pihak akan kembali merapatkan barisan untuk meneruskan urusan politik umum. Majoriti 2/3 dan minoriti 1/3 akan bertaut semula menjadi satu (3/3) semula. Titik perbezaan tetap ada, namun titik persamaan masih banyak dan boleh dilaksanakan bersama-sama. Biarlah hanya ahli parti politik sahaja yang terus ‘berpolitik’ tetapi rakyat mesti kembali bersatu tanpa mengira perbezaan agama, budaya dan bangsa.

Inilah yang telah berlaku semasa pemerintahan Khalifah Uthman ra dan Khlaifah Ali. Walaupun keadaan politik di pusat pemerintahan mereka bergolak, namun dakwah, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, ilmu dan empayar Islam terus berkembang ke seluruh dunia. Sesungguhnya, persaingan dalam arus ‘politik yang diIslamkan’, tidak akan menghalang perkembangan Islam sekalipun terjadi perselisihan. Justeru, persaingan kerana berbeza pandangan atas matlamat yang sama – (the same difference) adalah suatu yang akan memberi manfaat kepada ummah. Sebaliknya persaingan dalam arus ‘Islam yang dipolitikkan’ akan memudaratkan ummah justeru perbezaan itu adalah disebabkan oleh matlamat yang telah berbeza. Renungilah hakikat ini. Mungkin renungan itu nanti boleh mendinginkan sedikit suasana politik yang kian membahang ini…

Akhirnya itu, soal mesjid boleh atau tidak dijadikan tempat berpolitik sebenarnya bergantung kepada bagaimana politik itu ditakrif, ditafsir dan dipraktikkan. Jika politik ditakrifkan dan dilaksanakan dengan tepat mengikut Islam, maka mesjidlah tempat yang paling sesuai untuk berpolitik. Sebaliknya jika takrifnya tersasar atau dilaksanakan dengan cara yang salah, maka sewajarnyalah mesjid ‘diselamatkan’ dari sebarang aktiviti politik.

Kesimpulannya, mari kita membina 'faham' dalam setiap perkara yang berlaku.
bersangka baik dan memberi maaf., elakkan tuduh-menuduh, caci memaki,.
islam itu indah jangan kotorinya dengan sesuatu yang bersifat 'individualistik'

Wednesday, May 19, 2010

suatu kisah dia..

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang..

Allah.. penguasa sekalian alam.. Tuhan untuk jiwa2 yang lemah, tuhan untuk mereka yang sentiasa mengharapkan keredhaan,. tuhan untuk mereka yang sibuk,. tuhan untuk mereka yang berkuasa..

Alhamdulillah..hari ini, disaat dan ketika ini, jiwa dan hatiku masih lagi islam. masih lagi tunduk dengan kebesaran penciptaNya cuma kadang-kadang ketundukkan itu teruji dan menjadikan langkah terasa lemah,. kadang-kadang merangkak mencari-cari sinar islam yang ketika dahulu hidup segar dalam diri.. iman yang senipis kulit bawang ini pun tidak mampu dipertahankan.. malu.. malu dengan diri sendiri.. malu dengan Allah.. malu dengan rasulullah.. namun..ku akur,. ujian itulah yang menguatkanku untuk terus melangkah.. satu tapak.. dua tapak.. tiga, empat dan seterusnya.. hanya kepada Allah ku serahkan jiwa ragaku..

Alhamdulillah.. hari ini, disaat dan ketika ini juga, jari-jemari ini terasa ingin menaip sesuatu untuk dikongsikan.. setelah penat menaip tesis yang tak dihantar lagi..huhu..
kesian kat pengunjung blog ni.. da bersawang-sawang tidak diupdate.. tak terjaga.. minta maaf sangat2.. :(

Hari ini, macam nak bercerita tentang seseorang., kisah yang saya kira sangat menarik.. seorang yang kacak dan tampan, anak kepada seorang pemimpin,. demi mempertahankan iman dan islam tercinta pemuda ini pernah memberi amaran kepada ibunya yang melakukan mogok lapar dengan maksud mahu memurtadkan anaknya dari agama yang lurus.

"demi Allah! wahai ibu, sekiranya ibu mempunyai seribu nyawa dan nyawa ibu itu keluar satu demi satu, saya tidak akan meninggalkan agama ini walau apapun yang terjadi"

manusia yang dijanjikan syurga,. siapakah??? dialah..

SAAD BIN ABU WAQQAS

Orang kata tak kenal maka tak cinta. jom kita berkenalan dengan saad bin Abu waqqas ni. Saad bin Abu waqqas termasuk dalam salah seorang sahabat rasulullah yang dijanjikan syurga. siapa lagi 9? search n found sendirilah yer..


Saad dilahirkan dan dibesarkan di kota Makkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Rupa parasnya tampan dan kacak, tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda.

Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Suatu hari dalam hidupnya, dia didatangi Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Saad menemui Muhammad di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu mengesankan Saad yang baru berusia 20 tahun (ada satu buku saya jumpa 8 tahun).

Ia pun segera menerima undangan Muhammad SAW untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Saad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.

Saad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Ibunda rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad yaitu dari Bani Zuhrah. Karana itu Saad juga sering disebut sebagai Saad of Zuhrah atau Saad dari Zuhrah, untuk membezakannya dengan Saad-Saad lainnya.

Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibunda Saad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Saad kembali ke agama lamanya. Namun Saad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa pada sang ibu, namun kecintaannya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW jauh lebih besar lagi.

Mendengar kekerasan hati Saad, sang ibu akhirnya menyerah dan mahu makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Saad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam, kaum Muslim pergi ke bukit dan hutan2 jika hendak menunaikan solat. Kaum Quraisy selalu menghalangi mereka daripada beribadah.

pada suatu hari, ketika orang-orang islam sedang melaksanakan solat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan tuduhan kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Saad bin Abi Waqqas yang memukul salah satu orang Quraisy dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir. Konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran umat Islam.

Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran surat Al Muzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslim menahan diri. Baru beberapa dekad kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan perlawanan fizik kepada para orang kafir. Di barisan pejuang Islam, nama Saad bin Abi Waqqas menjadi salah satu tonggak utamanya.

Ia terlibat dalam perang badar bersama saudaranya yang bernama Umair yang kemudian syahid bersama 13 pejuang Muslim lainnya. Pada perang Uhud, bersama Zaid, Saad terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Saad berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah SAW setelah beberapa pejuang Muslim meninggalkan posisi mereka. Saad juga menjadi sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya mempertahankan Islam.

Saad juga merupakan salah satu sahabat yang dikurniakan kekayaan yang juga banyak digunakannya untuk kepentingan dakwah. Ia juga dikenal karena keberaniannya dan kedermawanan hatinya. Saad hidup hingga 80 tahun ada riwayat lain kata 72 tahun. Menjelang wafatnya, Saad meminta puteranya untuk mengafankannya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. ''Kafankan aku dengan jubah ini karena aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,''ujarnya.

kelebihan Saad bin abu waqqas

Hadis Aisyah r.a katanya:
Suatu malam Rasulullah s.a.w tidak dapat tidur. Baginda s.a.w berkata: Mudah-mudahan pada malam ini terdapat seorang daripada sahabatku yang soleh sudi menjagaku. Aisyah berkata: Ketika itu kami mendengar libasan pedang. Rasulullah s.a.w berkata: Siapakah itu? Saad bin Abu Waqqas menjawab: Wahai Rasulullah! Aku datang untuk menjagamu. Aisyah berkata: Selepas itu Rasulullah s.a.w tidur dengan nyenyaknya

Hadis Ali r.a katanya:
Rasulullah s.a.w tidak pernah menyebut kedua ibu bapanya kepada seseorang kecuali kepada Saad bin Malik, ketika peperangan Uhud. Rasulullah s.a.w bersabda kepadanya: Tebusanmu ialah ayah dan ibuku

Panjang lagi sebenarnya.. larat tak larat je nak menaip.. insyaAllah.. jika diberi ruang dan peluang,. saya akan berkongsi lagi..